Selamat Datang di

GPIB BUKIT SION BALIKPAPAN

“Wadah Hukum” dalam Pelayanan GPIB

Dalam suatu percakapan santai dengan beberapa kawan setelah ibadah Persekutuan Kaum Bapak (PKB), ada yang sharing tentang kesulitannya mempertahankan tanah miliknya yang saat ini sedang dikuasai pihak lain....., ada juga yang lain sharing tentang bagaimana proses pengurusan surat-surat di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Balikpapan begitu ribetnya......., sementara ada juga yang lain mempertanyakan tentang bagaimana penanganannya seandainya terjadi tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga, bahkan ada juga yang sharing tentang bagaimana sebaiknya menyelesaikan persoalan hukum yang mungkin muncul dalam organisasi GPIB...????

Sharing berbagai persoalan diatas adalah sesuatu yang wajar bahkan sangat wajar, tetapi cukup menggelitik hati saya ketika kemudian membayangkan tentang, apakah persoalan-persoalan itu tidak mungkin suatu waktu akan dialami oleh jemaat..... atau bahkan apakah tidak mungkin secara organsiasi GPIB juga akan mengalami persoalan yang bersentuhan dengan hukum ???? Pertanyaannya kemudian adalah “Secara Organisasi Apa Yang Dapat Kita Berikan Kepada Jemaat Ketika Mereka Berhadapan Dengan Persoalan Yang Bersentuhan Dengan Hukum, Atau Bagaimana Sikap Kita Ketika Secara Organisatoris/Kelembagaan GPIB Mengalami Persoalan Yang Bersentuhan Dengan Hukum?????”.

Sejatinya memang yang kita temukan selama ini adalah, ketika ada diantara warga jemaat mengalami persoalan hukum maka biasanya mereka akan langsung mengambil sikap dengan mengurus sendiri persoalannya atau menghubungi Pengacara/Konsultan Hukum untuk dapat membantu menyelesaikan persoalan mereka, dan biasanya juga mereka yang memiliki persoalan hukum “enggan” untuk datang ke Gereja dan menceritakan persoalan yang dihadapi kepada Presbiter (tentu saja dengan berbagai alasan, bisa karena memang tidak ada yang berkompeten untuk membantu menyelesaikan persoalan mereka), sementara pada fakta lainnya, kita juga dapat dengan mudah menemukan adanya persoalan hukum suatu kelembagaan/organisasi yang dibantu tangani oleh Pengacara karena kelembagaan/organsiasi itu tidak memiliki anggota yang kompeten untuk memberikan saran atau pendampingan hukum, akan tetapi GPIB (atau setidaknya kalau boleh kita batasi pada GPIB Mupel Kaltim I) dapat disebut sebagai yang memiliki asset sumber daya manusia yang sangat mumpuni untuk penanganan berbagai persoalan hukum. Sebut saja ditengah jemaat, kita memiliki jemaat dengan latar belakang profesi sebagai Polisi, Jaksa, Notaris, Hakim, Pengacara/Advokat, hal ini sangat lebih dari cukup untuk disatukan, dikoordinir, dibekali agar kemudian menjadi suatu wadah para profesional yang bersedia membantu melayani menangani berbagai persoalan hukum yang hadapi, jadi hanya pada persoalan maukah “kita” (para pengambil keputusan/kebijakan secara organisatoris) menyediakan atau membentuk wadah itu.

Semakin maju suatu peradaban, suatu kota, maka akan semakin kompleks persoalan yang akan dihadapi, ada yang awalnya tidak diperhitungkan akan berujung pada persoalan hukum, kenyataannya justru menjadi suatu persoalan hukum yang besar dan tidak selesai-selesai. Maka belajar dari hal tersebut, rasanya bukan sekedar kita perlu membentuk wadah hukum itu, tetapi memang menjadi suatu kebutuhan.

Ada pendapat yang berlaku ditengah masyarakat, “Apa bila dapat kita permudah kenapa harus kita persulit !”, “Apabila dapat diselesaikan dengan baik kenapa harus ke pengadilan ?”,  walaupun pendapat ini tidak selalu menjadi kenyataan, akan tetapi rasanya perlu kita pertimbangkan dalam melakukan langkah penyelesaian hukum, bahwa tidak semua persoalan hukum harus berakhir dengan “putusan pengadilan”, apalagi ketika acuan kita adalah “Hukum Kasih”, apalagi kemudian tinjauan kita adalah “Apabila ada yang mengambil bajumu maka berilah juga jubahmu”, dan apalagi ketika tinjauan kita adalah  “Apabila seterumu lapar berilah dia makan”....!!!  Rasanya memang menjadi suatu kewajiban dan kebutuhan untuk membentuk wadah hukum itu (apa saja namanya, Advokasi, Team Hukum, Lembaga Bantuan Hukum......etc), paling tidak kita dapat membantu warga jemaat untuk menyelesaikan persoalan hukum mereka dengan baik, apalagi bila penyelesaian itu dapat mengacu pada ajaran Kasih Kristus....., aaaaahhhh alangkah indahnya.

Secara kelembagaan mungkin saja kedepan kita (GPIB) akan berhadapan dengan persoalan legalitas kepemilikan tanah dan bangunan, atau ketika tanah dan bangunan yang kita (GPIB) miliki bahkan sudah dengan sertipikat akan tetapi kemudian digugat oleh pihak ketiga, atau apabila terjadi hambatan dan gangguan terhadap pengurusan ijin membangun tempat ibadah, atau dengan berbagai persoalan lain yang mungkin saja muncul, dan apabila itu terjadi, apakah kemudian kita harus menghabiskan waktu untuk rapat dulu, baru kemudian memanggil pihak-pihak yang berkompeten baru kemudian meminta kesediaan mereka untuk menjadi team kerja baru kemudian dibuatkan Surat Keputusan dan setelah itu baru mulai kumpulkan data dan baru setelah itu (mungkin satu bulan kedepan) baru team itu bisa jalan, dan...... sudah dapat ditebak...... persoalan yang tadinya dapat ditangani segera menjadi persoalan yang pelik, hanya karena ketiadaan wadah itu.........

Dengan latar belakang profesionalismenya, maka mereka (team hukum) dapat juga bahkan dimintakan bantuannya untuk memberikan pendapat hukum sebelum suatu program atau sebelum segala sesuatu dilakukan (tentu saja yang ada kemungkinan bersentuhan dengan hukum), agar dapat sedini mungkin dicegah untuk nanti tidak timbul persoalan hukum yang tidak perlu.

Ketika “pelayanan hukum” menjadi bagian dari “pelayanan dan kesaksian” maka rasanya menjadi penting agar dari sekarang kita bersama memulai sesuatu untuk mewujudkan wadah itu.........semoga...........!

 

 

Wuri Sumampouw, SH,MH

Ketua I PHMJ GPIB Bukit Sion 2015-2017

Praktisi Hukum/Advokat

 

KALENDER GEREJA

MINGGU PRAPASKAH

Prapaskah adalah persiapan sebelum Paskah. Masa Prapaskah adalah masa di mana umat mengenang dan menghayati kembali seluruh pelayanan Yesus yang penuh tantangan dan derita, yang dimulai dari Kaisarea Filipi sampai di Yerusalem. Oleh karena itu, masa ini adalah merupakan kesempatan untuk umat berpuasa, meratap, sadar diri, menyesal  dan bertobat.

Mengacu pada kesaksian Alkitab tentang masa pergumulan dan pertobatan, baik yang dialami umat Israel di padang gurun; Musa di atas gunung; Elia dalam perjalanan ke Horeb; Pertobatan orang Niniwe setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan terakhir Yesus yang berpuasa di padang gurun maka GPIB memperingati masa Prapaskah selama 40 hari atau Enam Minggu. Bahasa latinnya adalah Quadragesima (berarti ‘yang ke-40’); hari ke-40 sebelum Paskah. Minggu Prapaskah dimulai dengan ‘Rabu Abu’ (hari Rabu sebelum Minggu Prapaskah VI).

Oleh karena dinamakan Minggu Prapaskah maka perhitungannya adalah mulai dari Minggu Prapaskah VI dan seterusnya sampai Minggu Prapaskah I. Hal ini penting karena Jumat Agung atau peringatan Kematian Yesus Kristus terjadi dalam Minggu Prapaskah I. Jika dihitung menurut jumlah hari antara Rabu Abu dan Paskah, maka ternyata jumlah itu bukan 40, melainkan 46. Dalam hal ini, 6 Hari Minggu tidak termasuk karena hari Minggu tetap mengacu kepada Kebangkitan Kristus. Bagaikan enam oasis di padang gurun yang menjadi tempat untuk melepas lelah dan penyegaran untuk terus menjalani gurun kehidupannya, demikianlah 6 Hari Minggu dalam masa Prapaskah yang menjadi tempat persinggahan umat untuk memperoleh kekuatan agar tabah melangkah menjalani masa 40 hari sampai memuncak pada Hari Paskah.

 

Arti dan warna Logo :

-  Warna dasar :  Ungu Tua

-  Warna pinggir ikan dan huruf   :  Kuning

- Lambang / logo :  Ikan (ICHTUS)

 

Artinya : Tanda ini merupakan suatu Sandi rahasia di kalangan orang Kristen mula-mula yang sedang mengalami penganiayaan. Pada masa penyiksaan dan penganiayaan yang hebat itu mereka tidak bisa saling menyatakan diri sebagai pengikut Yesus. Karena itu, agar mereka tetap bersatu dan saling mengenal di antara mereka sebagai pengikut Yesus, dan terlebih tetap mengakui iman bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah dan Juruselamat maka mereka menggambar ikan di telapak tangan mereka masing-masing.

 

ULANG TAHUN

 Majelis Jemaat GPIB Jemaat “Bukit Sion” Balikpapan mengucapkan SELAMAT ULANG TAHUN KELAHIRAN dan PERKAWINAN bagi Warga Jemaat GPIB Jemaat “Bukit Sion” Balikpapan dari tanggal 25 Juni s/d 1 Juli 2017

HUT KELAHIRAN

25-Jun-17 SP
Sdri. Nidya Yolanda Hutagalung I
Ibu Lindawaty Tumanduk - M. I
Adik Koinonia Melody Seko I
Ibu Kelly Sien - Soehendra III
Bapak Pieter Evert E.Thenu IX
Bapak Wilmar Ruitang X
26-Jun-17  
Bapak Edward C.Mondoringin I
Bapak Nicholas Sumarno II
Ibu Sophie Anna Mait - W. III
Ibu Joice Unpapar - Lintong IV
Adik Griselda Ann M. Purba VI
Bapak Alek Sumarna VII
Ibu Lucia Sri Wahyuni H. Bando VIII
Adik Zevranius G. Pandiangan XI
Ibu Junita Lisa Mandolang - L. XI
27-Jun-17  
Ibu Jeany Evita S. Pangajow I
Ibu Sherly Marlin Koloay II
Bapak Rama Mamangkey III
Bapak Hulman Marpaung III
Sdr. Ricky Yohanes Sinyal V
Ibu Johanna C. L. Maukar - K. VIII
Ibu Ruslina Simanjuntak - P. X
Ibu Sylvia Janeke Latuny - H. X
28-Jun-17  
Ibu Yurieke Yuliana C. Mingkid II
Adik Ferry Christian II
Ibu Junita Indrawati Lumowa III
Adik Samuel J.Manossoh III
Ibu Theresia Kobis - T. VI
Ibu Heldina Saragi - H. VII
Adik Daniel B. T. Boengai VII
Ibu A. S. Andriani Prawoto VIII
Sdri. Katherina J. C. Kadarisman IX
29-Jun-17  
Sdr. Reinaldi Dirk Sampouw II
Ibu Renni Pangkey - D. VI
Adik Sidney A. Julio Pangkey VI
Bapak Joni Hara Simbolon XI
Adik Theresia Chaterine Jones XI
30-Jun-17  
Bapak Jufri Kaawoan I
Ibu Damaris Mondoringin - P. I
Sdri. Laureen G. Lopulalan V
Ibu Fietje Bangki - L. VII
Ibu Nurmaida Silalahi - S. VII
Adik Celine Angela Leticia VIII
Bapak Tom Jones Daniel XI
01-Jul-17  
Bapak Charles A. Enoch I
Ibu Hermilnia Koestansi Patty III
Adik Julia Oriana Wirati Sinaga III
Ibu Julita Juliana Setyawan - R. III
Sdr. Reza Faradani Soependi V
Ibu Yulitje Jelly Luntungan - Lasut VI
Ibu Juliana Haryanto - M. VI
Ibu Endang Sri Yulianti Ruru IX

HUT PERKAWINAN

26-Jun-17 SP
Salata - Sonia III
Metekohy - Ubro IX
27-Jun-17  
Waleleng - Runtuwene V
29-Jun-17 SP
Walelangi - Katuuk IV
Lintang - Umboh VIII
30-Jun-17  
Damanik - Saragih I
Oroh - Raturandang VI