Selamat Datang di

GPIB BUKIT SION BALIKPAPAN

Kalender, Salah Satu Sumbangan Terbesar Kekristenan pada Dunia

Kalau berbicara soal sumbangan Kekristenan (biara, gereja, ordo, pastur, pendeta, suster dan biarawan)  untuk kehidupan, kita perlu membuat suatu daftar pajang untuk menuliskannya, karena memang kekristenan telah menyumbang begitu banyak ilmu pengetahuan (sains & sosial) dan gagasan-gagasan yang masih bisa kita nikmati sampai hari ini. Salah satunya adalah kalender, tanggalan atau almanak. Kalender adalah sebuah sistem untuk memberi nama pada sebuah periode waktu secara akurat. Kalender bisa didasarkan dari gerakan-gerakan benda angkasa seperti matahari dan bulan. Tahukah anda bahwa kalender yang kita pakai hari ini memerlukan proses lebih dari 16 abad (penanggalan Masehi) untuk bisa kita pakai hari ini dengan tingkat kekeliruan (selisih antara perhitungan di atas kertas dengan keadaan nyata di alam) hanya 1 hari setelah menempuh waktu 3.300 tahun atau selisih 26,18 detik sehari.

 

Jauh sebelum “sempurna” yang kita kenal hari ini, kelender telah mengalami perjalanan panjang dengan beberapa kali mengalami “bongkar-pasang”. Kita mulai dari zaman Romawi, ketika itu kalender orang Romawi hanya ada 304 hari saja, dengan jumlah bulan 10, dimulai dengan bulan Maret dan  diakhiri oleh bulan Desember (lihat daftarnya di bawah). Kalender ini semata-mata menjiplak kalender orang Mesir tetapi nama-nama bulannya diganti sesuai kehendak pendiri kota Roma sekaligus penguasa Romawi saat itu, ; Romulus. Kalender ini kita sebut saja dengan nama Kalender Romulus atau Kalender Romawi. Bisa kita tebak, tentu karena tidak cocok dengan keyataan alam kemudian Kaisar Numa Pompilius menambahkan 2 bulan lagi pada Kalender Romulus; mulai Kalender Numa inilah kita mengenal ada 12 bulan seperti hari ini. Dua nama bulan tambahan ini adalah Januari (dijadikan bulan ke 11) dan Februari (dijadikan bulan ke 12) sehingga  jumlah hari pada kalender Numa menjadi 355 hari.

Nama bulan pada Kalender Romulus :

  1. Aprilis (29 hari
  2. Meius (Dewi Maya - 30 hari).
  3. Junius (Juno=Dewi Bulan - 29 hari).
  4. Quintilis (Ratu / Penguasa - 30 hari). bandingkan dengan Queen (Inggris)
  5. Sestilis (Ses=Enam - 29 hari). bandingkan dengan kata six (Inggris), Sechs (Jerman), Zes (Belanda), Seis (Spanyol)
  6. Septembre (Septo=Tujuh - 30 hari) bandingkan dengan Sapta (7) pada bahasa Sansekerta
  7. Oktobre Mart (Nama ayah Romulus yang adalah Dewa Perang bangsa Romawi - 30 hari).
  8.  (Oktav=Delapan - 29 hari). bandingkan dengan 1 Oktaf pada notasi musik (8 notasi), Otto (8, Spanyol)
  9. Novembre (Nova=Sembilan - 30 hari). bandingkan dengan Nove (9, Spanyol)
  10. Decembre (Deca=Sepuluh - 29 hari). bandingkan dengan Dasa muka (berwajah 10 berwajah banyak) pada cerita pewayangan Jawa

Bulan tambahan pada Kalender Numa adalah :

  1. Januarius (Janus=Dewa bermuka dua - 30 hari).
  2.  Februarius (Febro=Dewa Kematian - 29 hari)

Julius Caesar titip nama dan bongkar pasang

Gaius Julius Caesar; karena kebesaran namanya semua raja setelah dia disebut Kaisar (Caesar), yang membongkar-pasang dan memutar-balik urutan nama-nama bulan sehingga “rancu” seperti hari ini. . Bulan ke 7 yang semula bernama Quintilis (Ratu / Penguasa) diganti sesuai namanya menjadi bulan Julius (Juli).  Bulan Januari dipindah dari bulan ke 11 menjadi bulan pertama diambil dari nama Dewa Janus dengan filosofi Dewa bermuka dua yang bisa melihat ke depan dan ke belakang, dewa yang bisa melihat ke masa lalu dan ke masa depan yang penuh harapan. Sehingga cocok sebagai pembuka tahun. Bulan Februari dipindah dari bulan ke 12 menjadi bulan ke 2 diambil dari nama Dewa Febro, Dewa Kematian, dengan pertimbangan pada bulan Februari inilah suhu di bumi belahan utara mencapai titik terendah yang mematikan. Tetapi apakah kalau sekarang seseorang diberi nama Febri (misalnya penyanyi Indonesian Idol) apakah berarti Dewa Kematian !? Tidak, itu hanya karena dia lahir pada bulan Februari saja. Sehingga bulan Maret yang semula menmpati bulan pertama bergeser menjadi bulan ketiga, demikian juga dengan Desember yang semula menempati bulan ke sepuluh bergeser menjadi bulan ke duabelas. Jumlah hari pada kalender Julian pun bertambah menjadi 365 hari. Khusus untuk nama bulan Agustus perubahan penamaan ini untuk mengganti nama bulan ke 8 yang diberikan pada zaman Kaisar Agustus (Gaius Julius Caesar Octavianus63 SM – 14 M, anak angkat dari Gaius Julius Caesar/Julius Caesar) untuk menghormatinya. Julius Caeser juga menetapkan secara resmi penggunaan Kalender Julian (dibuat oleh Sosigenes seorang astronom dari Alexandria, Mesir) berlaku mulai hari ini (ketika itu) adalah hari Senin tanggal 1 Januari (jika menurut menanggalan Masehi ketika itu tahun 45 SM).

Kalender yang kita pakai hari ini adalah Kalender Masehi/Kalender Gregorian, (diusulkan oleh Dr. Aloysius Lilius dari Napoli-Italia dan disetujui oleh Paus Gregorius XIII) dibuat atau lebih tepatnya dihitung kembali dengan lebih cermat lagi setelah kalender sebelumnya (Kalender Julian) yang selama itu dipakai dinilai kurang akurat. Kelemahan Kalender Julian baru disadari setelah melihat kenyataan bahwa awal musim semi di belahan Utara Katulistiwa (seharusnya pada tanggal 21 Maret) 10 hari lebih awal dari kenyataan alam, yang berakibat tanggal Hari Paskah yang sudah disepakati sejak Konsili Nicea I (di NicaeaBithynia, sekarang İznik di Turki pada tahun 325 M) tidak tepat lagi. Kemudian disepakati berdasarkan perhitungan ilmiah terbaru, tanggal 4 Oktober 1582 M (hari Kamis) lompat menjadi tanggal 15 Oktober 1852 M (hari Jumat) yang menandai awal penggunaan Kalender Gregorian dalam penanggalan Gerejawi. Britania Raya baru menerapkan Kalender Masehi (Kalender Gregorian) pada tahun 1752, Rusia baru pada tahun 1918 dan Yunani baru pada tahun 1923. Sedangkan Gereja Ortodoks sampai sekarang tetap menggunakan Kalender Julian sehingga tanggal perayaan Paskah, Natal dan Tahun Baru nya berbeda.

Penentuan Hari Paskah (Computus)

Konsili Nicea I, diselenggarakan di NicaeaBithynia (sekarang İznik di Turki tahun 325 M) yang dihimpunkan oleh Kaisar RomawiKonstantinus Agung merupakan Konsili Ekumenis  (pertemuan uskup seluruh Gereja untuk membahas dan mengambil keputusan yang menyangkut doktrin Gereja dan aturan praktisnya, semacam PST GPIB) yang pertama dari Gereja Kristiani, dan hasil utamanya adalah keseragaman dalam doktrin Kristiani. Salah satu hasil dari Konsili Nicea I adalah kesepakatan mengenai Hari Kebangkitan Kristus (Paskah), hari raya terpenting dalam kalender gerejawi. Konsili memutuskan untuk merayakan hari Kebangkitan Kristus pada hari Minggu pertama sesudah bulan purnama pertama terhitung sejak 21 Maret. Jika bulan purnama pertama terjadi pada tanggal 24 Maret (setelah tanggal 21 Maret) maka hari Minggu pertama setelah purnama tanggal 24 Maret adalah hari Paskah. Dan jika bulan purnama pertama terjadi pada tanggal 29 Maret (setelah tanggal 21 Maret) maka hari Minggu pertama setelah purnama tanggal 29 Maret adalah hari Paskah. Pada tahun 1986 ketika pelembagaan 4 gereja di Balikpapan (Maranatha, Pniel, Syaloom, Bukit Sion) terjadi pada hari Minggu 30 Maret (bertepatan dengan hari Paskah). Tahun ini hari Paskah terjadi pada tanggal 8 April.

Kita bisa coba di tahun 2013 sekedar pengetahuna kecil saja, patokannya adalah tgl 21 Maret. Kenapa 21 Maret begitu penting ? Karena pada tanggal 21 Maret matahari dalam peredarannya (gerakan semu terhadap garis edar semu bumi) tepat berada di katulistiwa dan merupakan titik awal musim semi (di belahan bumi Utara). Kemudian kita perhatikan bulan di malam hari, jika bulan purnama (Bulan nampak bulat sempurna, tgl. 15 kalau mengikuti kalender Islam/Jawa/Cina) maka hari minggu pertama setelah purnama itu adalah hari Paskah Kristen (Hari Kebangkitan Yesus, Hari raya terbesar Kristiani, Hari raya sukacita umat Kristen karena Yesus Naik ke Sorga). Untuk mengujinya kita bisa melihat kalender. Silahkan mencoba. Karena bulan purnama setelah 21 Maret tiap tahun berbeda maka tanggal Hari Paskah ada 35 kemungkinan yaitu antara tanggal 22 Maret sampai dengan tanggal 25 April. Hari Paskah paling sering terjadi pada tanggal 19 April dengan prosentase 3,9%

Bersinambung dan terarah

Menyimak uraian singkat diatas, ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya dalam kaitan dengan kehidupan komunal kita dan dalam lingkup hidup berorganisasi di Gereja.

Pertama, para pemimpin / pengambil keputusan dan kebijakan sangat memperhatikan tanda-tanda alam (tanda-tanda TUHAN), mereka mencoba memperhatikan, mencermati, mengingat dan mencatat pesan-pesan dari alam. Mengikuti perhitungan alam dengan begitu detail untuk menuju keselarasan dan keseimbangan hidup dengan alam (Tuhan). Mencoba terus berbenah meski lintas generasi harus ditempuh. Kesempurnaan dan keselarasan pemahaman tentang alam (Tuhan) adalah yang dicari. Mereka dan kita telah melihat keputusan seorang raja (pemimpin) sekalipun bisa saja salah dan berdampak luas dan lama kalau tidak memperhatikan, mencermati, mengingat dan mencatat pesan-pesan dari alam (tanda-tanda TUHAN). Perenungan dan pengendapan diri bisa untuk mencari jejak dan tanda-tanda alam (TUHAN).

Kedua, pencapaian akan kesempurnaan begitu panjang dan berjenjang tetapi karena ada sasaran yang jelas; walau dengan sasaran antara yang sedikit compang–camping; sasaran utama tetap menjadi tujuan bersama untuk dicapai. Tema tahunan gereja mestilah menjadi muara dari semua sasaran program Pelkat, Komisi, Panitia, setahun ke depan. Tema tahunan jangan hanya menjadi slogan kosong yang tidak meninggalkan jejak setapakpun untuk diikuti dan disasar. Tingkat pencapaian program harus bisa dan mau diukur sebagai acuan penilaian untuk perbaikan ke depan. Mari setiap kita mengambil peran kecil dalam lingkup komunal maupun organisasi untuk memperbaikan kehidupan generasi di belakang kita. Sekarang kita jangan apatis (masa bodoh) mari rapikan jalan setapak ini untuk pemuda, taruna dan anak-anak kita agar Ferari mereka kelak bisa melaju.

Ketiga, dalam upaya mencapai sasaran utama bersama tetap ada saja oknum-oknum yang berusaha memegahkan diri dengan memeteraikan jati dirinya yang paling menonjol dan berjasa (misalnya Julian dan Agustus) hanya Sosigenes yang tahu (astronom Mesir). Tetapi menurut hemat saya, sah-sah saja sejauh itu semacam penghormatan dan penghargaan dari komunitas kepada pribadi tertentu tetapi bukan menjadi sasaran pribadinya dalam komunal dan berorganisasi; karena ada wadah lain di luar sana untuk tujuan pribadi semacam itu. Bukankah selalu ada sesosok tubuh (dengan roh di dalamnya) dan sebentuk lengan dengan jari jemari yang menarik pelatuk sehingga pistol itu bisa meletus dan melontarkan sebutir timah panas menuju sasaran entah. Marilah kita bersinergi (kegiatan atau operasi gabungan) untuk kesejahteraan bersama dalam lingkup komunal dan organisasi.

Keempat, mereka pendahulu kita tidak hanya sekedar berwacana (bersuara) untuk memotong rumput,  mematahkan ranting, mengikis tanah dan menggali batu tetapi sejarah telah membuktikan bahwa mereka sudah menarik lengan baju, melepas dua kancing dan menggulung kaki celana untuk bekerja, mereka telah meninggalkan jejak rapi untuk diikuti, anak tangga yang landai untuk ditapaki. Mereka telah menghasilkan sesuatu untuk generasi sekarang. Apa yang mau kita wariskan ? Kita terlalu sibuk berdoa (bersuara) lupa bekerja ? ORA ET LABORA (BERDOA DAN BEKERJA)

 

 Jay Tusan

Peminat Kebudayaan

KALENDER GEREJA

MINGGU PRAPASKAH

Prapaskah adalah persiapan sebelum Paskah. Masa Prapaskah adalah masa di mana umat mengenang dan menghayati kembali seluruh pelayanan Yesus yang penuh tantangan dan derita, yang dimulai dari Kaisarea Filipi sampai di Yerusalem. Oleh karena itu, masa ini adalah merupakan kesempatan untuk umat berpuasa, meratap, sadar diri, menyesal  dan bertobat.

Mengacu pada kesaksian Alkitab tentang masa pergumulan dan pertobatan, baik yang dialami umat Israel di padang gurun; Musa di atas gunung; Elia dalam perjalanan ke Horeb; Pertobatan orang Niniwe setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan terakhir Yesus yang berpuasa di padang gurun maka GPIB memperingati masa Prapaskah selama 40 hari atau Enam Minggu. Bahasa latinnya adalah Quadragesima (berarti ‘yang ke-40’); hari ke-40 sebelum Paskah. Minggu Prapaskah dimulai dengan ‘Rabu Abu’ (hari Rabu sebelum Minggu Prapaskah VI).

Oleh karena dinamakan Minggu Prapaskah maka perhitungannya adalah mulai dari Minggu Prapaskah VI dan seterusnya sampai Minggu Prapaskah I. Hal ini penting karena Jumat Agung atau peringatan Kematian Yesus Kristus terjadi dalam Minggu Prapaskah I. Jika dihitung menurut jumlah hari antara Rabu Abu dan Paskah, maka ternyata jumlah itu bukan 40, melainkan 46. Dalam hal ini, 6 Hari Minggu tidak termasuk karena hari Minggu tetap mengacu kepada Kebangkitan Kristus. Bagaikan enam oasis di padang gurun yang menjadi tempat untuk melepas lelah dan penyegaran untuk terus menjalani gurun kehidupannya, demikianlah 6 Hari Minggu dalam masa Prapaskah yang menjadi tempat persinggahan umat untuk memperoleh kekuatan agar tabah melangkah menjalani masa 40 hari sampai memuncak pada Hari Paskah.

 

Arti dan warna Logo :

-  Warna dasar :  Ungu Tua

-  Warna pinggir ikan dan huruf   :  Kuning

- Lambang / logo :  Ikan (ICHTUS)

 

Artinya : Tanda ini merupakan suatu Sandi rahasia di kalangan orang Kristen mula-mula yang sedang mengalami penganiayaan. Pada masa penyiksaan dan penganiayaan yang hebat itu mereka tidak bisa saling menyatakan diri sebagai pengikut Yesus. Karena itu, agar mereka tetap bersatu dan saling mengenal di antara mereka sebagai pengikut Yesus, dan terlebih tetap mengakui iman bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah dan Juruselamat maka mereka menggambar ikan di telapak tangan mereka masing-masing.

 

ULANG TAHUN

 Majelis Jemaat GPIB Jemaat “Bukit Sion” Balikpapan mengucapkan SELAMAT ULANG TAHUN KELAHIRAN dan PERKAWINAN bagi Warga Jemaat GPIB Jemaat “Bukit Sion” Balikpapan dari tanggal 23 s/d 29 Juli 2017

HUT KELAHIRAN

23-Jul-17 SP
Sdri. Caren V. Y. Gultom III
Ibu Regina Rudolf - T. VIII
24-Jul-17  
Ibu Pemi Lumi - Rindangsili III
Adik Glen G. Sumampouw III
Adik Cornelia I. Benita  IV
Adik David A. Soependi V
Ibu Jola Ferida Tampubolon - T. VII
Adik Jeffrey D. Azio Lumentut VII
Adik Jeremy D. Felix Lumentut VII
Adik Stephanie Julia E. Turalaki VII
Bapak Sri Joko Wahono XI
Bapak James W. J. Ngantung XI
25-Jul-17  
Ibu Julia Emine Silvy Pangajow I
Ibu Jenny Anang - Torar II
Bapak Yudha C. Manossoh III
Bapak Jantje Awuy VI
Ibu Susanti VII
Sdr. Billy Leonardo F.Mongkaren VIII
26-Jul-17  
Bapak Yulius Dolly Dien II
Bapak Victor Renaldo Anang II
Ibu Diana Yuli Sampouw - S. II
Adik Daniel E. Sitanggang II
Ibu Emilia I. Sumampouw - S. III
Adik Firda Kasih III
26-Jul-17  
Bapak Vecky J. L. Suoth VI
Adik Fernando G. S. Sitio VII
Bapak Yudhie S. Bargowo VIII
Ibu Juliet Tamboeo - Jehu VIII
Sdr. Frits Pungus X
Sdri. Jeanet Ribka D.Nanlohy XI
Ibu Luisa Martje Pangau - M. XI
27-Jul-17  
Ibu Migda Lintang - Umboh VIII
Bapak Marco Joe A.Watung VIII
Adik Zefanya G. B. Sinaga IX
Adik Jack Christ Oley IX
28-Jul-17  
Bapak Karel Lumowa III
Ibu Julien Damaling - B. IV
Bapak Ishak VI
Bapak Jonli Reki Kula VI
Bapak Calvin Moddy Sambur VIII
Adik Jwita Vivian A. Naibaho VIII
Bapak Johannis Pandjaitan IX
29-Jul-17  
Sdr. Calvin Yosafa Toreh I
Ibu Jessica Palmira Sitompul II
Ibu Yolanda Warouw - Awen III
Adik Imily A. S. Tetengean IV
Adik Prince H. Christensen M. VII
Ibu Kristianik S.Pandiangan - N. XI

HUT PERKAWINAN

23-Jul-17 SP
Lumuko - Karouw V
24-Jul-17  
Oley - Wangania IX
Boenari - Asnah X
25-Jul-17  
Ratag - Sutadjab IV
Pangau - Tendean XI
Pangau - Makalew XI
27-Jul-17  
Anang - Nursaida III
Kotambunan - Martono VIII
29-Jul-17  
Heuvelman - Manoppo II