Selamat Datang di

GPIB BUKIT SION BALIKPAPAN

Previous Next
Selamat Bergabung Warga Sidi Baru! Setelah mengikuti pendidikan katekisasi selama kurang lebih 1 tahun. Sebanyak 28 orang warga... Read more
SIDANG TAHUNAN MUPEL KALTIM 1 Pada 26 Februari 2016 lalu diadakan Sidang Tahunan Musyawarah Pelayanan Kalimantan Timur 1... Read more
IBADAH KREATIF 16 FEBUARI 2016   Suasana  saat Seminar Love, Sex & Dating   Salam GP’ers , selamat... Read more
Kerja Bakti Bersihkan Lahan Samping Gereja Menjelang Natal dan Tahun Baru, jemaat GPIB Bukit Sion Balikpapan yang terdiri dari Pelayanan... Read more
PERAYAAN NATAL JEMAAT BUKIT SION 2015 Dalam rangkaian menyambut Natal Yesus Kristus 2015, pada Jumat (18/12), diadakan Perayaan Pra... Read more
PEMILIHAN PHMJ 2015-2017 Pada Minggu (22/3) diadakan pemilihan Pelaksana Harian Majelis Jemaat (PHMJ) periode 2015 -... Read more
BANTUAN TANAH LONGSOR Jumat (27/3), diberikan bantuan untuk warga sektor pelayanan VI, yakni keluarga Kobis - Tamasole... Read more

SABDA BINA UMAT 25 JUNI 2012 - PAGI

KJ. 462 : 1-2

PENTINGNYA KEPEDULIAN DAN SOLIDARITAS

YOSUA 1 : 12-18

“sampai TUHAN mengaruniakan keamanan kepada saudara-saudaramu seperti kepada kau juga...” (ay. 15)

Dalam sebuah rapat Pelaksana Harian Majelis di sebuah jemaat GPIB, pernah terlontar kalimat seperti ini: “Ah, seandainya uang kas di jemaat kita cukup banyak, tentu proposal sejumlah jemaat yang masuk meminta sumbangan untuk pembangunan gedung gerejanya dapat kita penuhi sebanyak mungkin.  Sayangnya, jemaat kita pun masih terlibat hutang dan banyak membutuhkan dana untuk membayai program yang belum berjalan di waktu yang akan datang.”

Dilema seperti ini mungkin pernah dialami sejumlah jemaat yang sebetulnya ingin mengulurkan tangan bagi jemaat-jemaat yang lain yang sedang membangun rumah ibadah.  Tetapi mereka sendiri pun tidak memiliki dana yang cukup memadai untuk membiayai kebutuhan pelayanan yang ada dalam jemaatnya sendiri.  Lalu pertanyaannya, kapankah jemaat-jemaat kita dapat “menolong” jemaat yang lain, jika kita masing-masing hanya sibuk memikirkan diri sendiri?  Pada umumnya, setiap orang/jemaat cenderung mengutamakan kepentingan dirinya melebihi kepentingan sesama/jemaat lainnya.

Pola pikir seperti ini telah diantisipasi oleh Yosua ketika mereka memasuki tanah perjanjian.  Suku Ruben, Gad dan Manasye diharuskan tetap ikut berperang menolong suku-suku yang lain dalam upaya pendudukan negeri Kanaan.  Mereka tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri dan berjuang untuk wilayah yang mereka duduki saja, tetapi untuk seluruh wilayah yang akan menjadi milik suku-suku Israel yang lain juga (ay. 13-14).  Setelah semua negeri itu berhasil dikuasai, barulah mereka (3 suku ini) boleh kembali ke wilayah mereka sendiri (ay. 15).

Kepemimpinan Yosua saat itu masih sangat dihormati dan dijunjung tinggi sehingga tidak seorang pun berani membantah.  Kesadaran dan kepatuhan seperti itu mendatangkan berkat bagi seluruh suku Israel.  Mereka tampil sebagai umat yang solid.  Bagaimana dengan kita, jemaat-jemaat GPIB?  Sejauh manakah kepedulian kita terhadap jemaat lain yang sedang “bergumul”?

KJ. 462 : 3-4

KALENDER GEREJA

 

7-salib-mahkota1.jpg

Kenaikan Yesus Kristus ke surga selalu terjadi pada hari Kamis. Peristiwa ini hendak menjelaskan bahwa Yesus Kristus kembali naik takhta kemuliaanNya yang telah ditinggalkan ketika diutus ke dunia. Karena itu, Yesus Kristus diakui sebagai Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan (Tim 6:151). 

 

Pesta ini dirayakan selama sepuluh hari dengan kemeriahan dan kegembiraan oleh semua orang percaya.

 

Hari Minggu sesudah Hari Kenaikan dapat dinamakan Minggu Pemuliaan Kristus di surga, dan bukan Minggu Paskah VII yang selama ini berlaku.  (Bahasa Lat. Exaudi = ‘Dengarlah’ (Mzm.27:7). Ayat 10 dari Mazmur yang sama, ‘Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku’, dapat dihubungkan dengan sabda Yesus dalam Yoh.14:18), Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu’, yaitu sesudah kebangkitan dan kenaikan-Nya.

 

Simbol Hari Kenaikan dan Minggu Pemuliaan adalah Mahkota (kuning mas) dan Salib (kuning gading) dengan warna dasar  putih.

 

Arti:

Kemuliaan yang  Yesus Kristus terima dengan kenaikanNya ke surga membuat  mahkota duri yang diletakkan di kepala-Nya ketika Ia menderita dan mati di salin berubah menjadi mahkota kemuliaan. Jadi, penderitaan maupun kematian yang dialami para pengikut  pengikut Kristus di dunia bukanlah tanpa maksud, sebab maksud-nya adalah menerima mahkota kemuliaan. Barang siapa yang percaya kepada-Nya dan setia sampai mati, iapun akan mendapat-kan mahkota kehidupan itu (bnd. Filp 2:19.11; Wahyu 2:10).

 

Kenaikan Yesus Kristus ke surga selalu terjadi pada hari Kamis. Peristiwa ini hendak menjelaskan bahwa Yesus Kristus kembali naik takhta kemuliaanNya yang telah ditinggalkan ketika diutus ke dunia. Karena itu, Yesus Kristus diakui sebagai Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan (Tim 6:151).

 

Pesta ini dirayakan selama sepuluh hari dengan kemeriahan dan kegembiraan oleh semua orang percaya.

 

Hari Minggu sesudah Hari Kenaikan dapat dinamakan Minggu Pemuliaan Kristus di surga, dan bukan Minggu Paskah VII yang selama ini berlaku. (Bahasa Lat. Exaudi = ‘Dengarlah’ (Mzm.27:7). Ayat 10 dari Mazmur yang sama, ‘Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku’, dapat dihubungkan dengan sabda Yesus dalam Yoh.14:18), Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu’, yaitu sesudah kebangkitan dan kenaikan-Nya.

 

Simbol Hari Kenaikan dan Minggu Pemuliaan adalah Mahkota (kuning mas) dan Salib (kuning gading) dengan warna dasar  putih.

 

Arti:

Kemuliaan yang  Yesus Kristus terima dengan kenaikanNya ke surga membuat  mahkota duri yang diletakkan di kepala-Nya ketika Ia menderita dan mati di salin berubah menjadi mahkota kemuliaan. Jadi, penderitaan maupun kematian yang dialami para pengikut  pengikut Kristus di dunia bukanlah tanpa maksud, sebab maksud-nya adalah menerima mahkota kemuliaan. Barang siapa yang percaya kepada-Nya dan setia sampai mati, iapun akan mendapat-kan mahkota kehidupan itu (bnd. Filp 2:19.11; Wahyu 2:10).